Pengorekan Tanah Kavlingan Mengancam Pemukiman, Warga sampai Pindah Tidur

Galian yang mengancam rumah warga

AKSI pengorekan tanah untuk kavling perumahan di Jalan Siak, Kelurahan Martoba, Kecamatan Siantar Utara, Kota Siantar yang dilakukan pihak Kavling Bersama, semakin mengkawatirkan. Karena, delapan rumah warga sudah berada di tepi jurang dan terancam longsor.

Kondisi tersebut terjadi karena Pemko terkesan melakukan pembiaran. Apalagi aksi pengorekan sudah berlangsung sekitar satu bulan dan semakin dalam. Sementara, keresahan warga juga sudah disampaikan kepada pihak terkait.

Bacaan Lainnya

Akibatnya, ada warga terpaksa mengungsi tidur di rumah saudaranya. Takut kalau rumahnya terbawa longsor apalagi saat ini sedang musim hujan. Sementara, tembok penahan yang sempat dibangun pengembang, malah sudah lebih dulu roboh akibat longsor.

Seperti pernyataan, Sudar (53) yang rumahnya berada di tepi galian dan sewaktu-waktu terancam longsor. “Kalau ditanya apakah takut rumah saya longsor, ya pasti takut. Karena itu, sudah tiga malam saya pindah tidur ke rumah saudara,” ujarnya, Selasa (20/9/2022).

Dijelaskan, sampai saat ini belum ada jaminan dari pihak Kavling Bersama bagaimana kalau rumah yang dihuninya bersama anak dan seorang cucu yang masih kecil, benar-benar longsor. Hanya saja, Sudar mengatakan bahwa pihak pengembang berjanji membangun tembok. Tetapi itu belum juga dilakukan.

Informasi lainnya dari warga, tembok yang sempat dibangun pengembang telah longsor saat hujan tiba karena galian yang dilakukan pihak perusahaan, Jumat malam, (16/9/2022). Bahkan, longsor tersebut membuat jalan setapak di depan rumah warga menjadi rusak.

“Tembok yang dibangun itu sebenarnya sudah dua kali longsor. Pertama sekitar sebulan sebelumnya. Terus dibangun lagidan longsor lagi, Katanya akan dibuat tembok seperti beronjong. Tapi, kita tetap kawatir karena kualitas beronjong yang dikerjakan seperti tidak memadai untuk mengikat batu padas yang dijadikan beronjong,” ujar warga lainnya.

Ketua RT setempat, Lamiran mengatakan bahwa pihak Kavling Bersama akan melakukan perbaikan terhadap tembok penahan dan jalan setapak yang roboh. “Soal tembok penahan yang sudah dua kali roboh itu akan dibangun beronjong,” ujarnya sembari mengatakan bahwa pihak Kaviling Bersama juga menambang bebatuan di lokasi mata air lahan kavlingan.

Namun, soal eksploitasi atau penambangan (galian) batu padas itu, tidak diketahui Ketua RT ada atau tidaknya izin dan kelengkapan dokumen lainnya. Karena, masalah tersebut dikatakan tidak pernah disampaikan kepadanya.

Saat soal Galian C itu dikonfirmasi kepada Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Siantar, Dedi Tunasto Setiawan, penambangan dimaksud ternyata liar atau ilegal. Karena, sampai saat ini pihaknya belum ada mengeluarkan izin dan dokumen Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Perlindungan Lingkungan/UKL-UPL).

“Memang tidak tidak ada dokumen lingkungannya. Tidak ada izinnya,” ucap Dedi Tunasto Setiawan yang juga menjabat sebagai Plt Kadis Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Siantar.

Ketika diinformasikan bahwa aksi Kavling Bersama yang melakukan penggalian dengan menggunakan alat berat berupa eksapator itu membuat warga resah karena galian mengancam pemukiman, Dedi Tunasto Setiawan mengatakan, akan berkoordinasi dengan Sat Pol PP.

“Kita perlu mengkaji aturannya. Dari sisi undang-undang minerba, lingkungan dan tata ruangnya,” katanya terkesan berdalih.

Sekedar informasi, soal lahan untuk kavling perumahan yang dilakukan pihak perusahaan Kavling Bersama, berada di bawah pemukiman warga. Sementara, lokasi tersebut dikatakan memang rawan longsor. Bahkan, longsor terparah pernah berlangsung tahun 2017 lalu. Masalahnya, lahan untuk kavlingan itu semula merupakan rawa-rawa.

Namun, meski merupakan rawa-rawa, ada sekitar 11 mata air yang masih aktif dan kerap dimanfaatkan warga untuk keperluan sehari-hari. Namun, karena lahan tersebut sudah diratakan, mata air tersebut bakal hilang.

Sementara, pihak pengembang Kavling Bersama, Arman Pasaribu belum berhasil ditemui karena tidak berada di lokasi. Namun, sebelumnya dikatakan bahwa pihaknya mengelola lahan untuk pemerataan. Kemudian, soal penambangan jenis galian C, bagian dari kegiatan mereka.

Dikatakan, batu padas hasil galian akan dimanfaatkan. “Sayang kalau tidak dimanfaatkan,” ujarnya beberapa hari lalu. Namun soal perizinan yang ditanya, enggan dijawab. Bahkan, terkesan mengelak dan mengaku sulit mengurus izin perumahan. Sehingga memilih lahan yang cukup luas tersebut menjadi tanah kavling.(In)

Pos terkait