Sang Naualuh yang Dihormati di Bengkalis

Makam Raja Siantar, Sang Naualuh Damanik di Bengkalis. foto imran nasution

KISAH Raja Siantar ke 14, Sang Naualuh Damanik yang diasingkan ke pulau Bengkalis Propinsi Riau tahun 1906 karena menolak bekerja sama dengan Belanda, ternyata mendapat tempat tersendiri di hati masyarakat setempat. Apalagi, makamnya selalu dijaga dan dirawat. Inilah laporan singkat Imran Nasution di Bengkalis.

Untuk menuju pulau Bengkalis yang terpisah dengan pulau Sumatera, harus berlayar menggunakan kapal feri dari penyeberangan Pakning, Kecamatan Bukit Batu, Kabupaten Bengkalis (Lokasi makam Laksamana Raja Di Laut seperti lagu Melayu nyanyian Iyeth Bustami).

Bacaan Lainnya

Dari Pakning, pulau Bengkalis tampak seperti garis memanjang. Saat berlayar menyeberangi selat Bengkalis dengan arus yang tenang, dari kejauhan tampak beberapa kapal feri berlayar menuju Pulau Pinang dan pulau Batam atau sebaliknya.

Sekira 45 menit kemudian, feri berlabuh di pelabuhan Air Jernih, Kecamatan Bengkalis yang ramai dengan antrian masyarakat, sepeda motor dan kenderaan roda empat atau lebih untuk menyeberang ke Pakning.

Selanjutnya, hanya butuh sekitar 20 menit sampai ke Kota Bengkalis yang rumah maupun gedung-gedungnya, tidak begitu dominan dengan ornament Melayu sebagaimana layaknya kota lain sebagai tanah Melayu.

Ketika masyarakat ditanya tentang Raja Sang Naualuh, masyarakat memang tidak begitu mengenalnya. Tetapi ketika disebut Raja Batak beragama Islam yang pernah diasingkan Belanda, mereka langsung mengangguk. Mengatakan, makamnya ada di jalan Bantan, Desa Senggoro, Kecamatan Bengkalis. Berada di antar pemukiman penduduk.

Lingkungan pemakaman terasa sejuk dengan lima pohon palm yang berdiri kokoh di sekitar lingkungan makam dengan luas sekitar 20 kali 30 meter. Berpagar jerejak besi setinggi satu meter. Makam Sang Naualuh ada di bagian bangunan seperti joglo berornament Simalungun. Sama seperti makam ummat Islam pada umumnya.

Kepala Desa Senggoro, Basrah Hamid mengatakan, selalu saja ada masyarakat menziarahi Raja Siantar yang diasingkan Belanda seumur hidup mulai 1906 sampai mangkat 1914. Selain dari Simalungun maupun kota Siantar sebagai tanah leluhur Sang Naualuh Damanik, juga dari berbagai daerah di Indonesia. Termasuk dari Malaysia.

Dijelaskan, yang berziaraha terakhir , pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pematang Siantar, minggu pertama September 2022. Sebelumnya, komunitas dari Hasadaon Damanik boru Panogolan se Dunia, Kabupaten Labuhan Batu Selatan. Sebelumnya lagi, Wali Kota Pematang Siantar bersama rombongan.

“Saat Wali Kota Siantar, dr Susanti Dewayani berziarah dalam rangka Hari Ulang Tahun Kota Siantar ke 151, turut didampingi Wakil Bupati Bengkalis, H Bagus Santoso,” ujar Kepala Desa lagi.

Sementara, saat pengurus MUI Pematang Siantar berziarah, juga turut didampingi sejumlah pejabat Pemkab Bengkalis. Bersama-sama melantunkan ayat suci dan berta’jiah serta memanjatkan doa sambil duduk bersila menghadap makam Sang Raja.

Kadis Pariwisata, Kepemudaan dan Olahraga Pemkab Bengkalis, Yenny mengatakan, makan Raja Siantar itu menjadi perhatian khusus bagi Pemkab Bengkalis. Bahkan, tahun 2022 ini, pendopo terbuat dari kayu yang roboh dimakan usia, akan dibangun kembali.

“Pendopo yang terbuat dari bahan kayu pinang roboh karena termakan usia. Sekarang tinggal tangga terbuat dari batu saja yang tersisa. Jadi, pendopo itu akan dibangun,” ujar Yenny didampingi Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan, Fadhlan Fuad Daulay.

Informasi lain dari Kesbang Linmas Pemkab Bengkalis, Ramlan, Sang Raja Siantar ditahan Belanda di penjara Huis Van Behauring yang dibangun tahun 1883 dengan tembok yang begitu tebal. Berada di Jalan Pahlawan, Kelurahan Bengkalis.

“Penjara itu ada 25 kamar. Salah satunya untuk Raja Siantar dan keluarga,” ujar Ramlan sembari mengatakan bahwa penjara Belanda itu tidak jauh dari rumahnya.

Dijelaskan, Raja Sang Naulauh Damanik yang diasingkan Belanda seumur hidup itu pernah dikunjungi Raja Siak pada zamannya. Kemudian, dilepas Belanda dari penjara Huis Van Behauring. Namun, tidak diperbolehkan kembali ke Pematang Siantar.

Selanjutnya, ada warga menyerahkan tanah untuk tempat tinggal Sang Naualuh Damanik bersama keluarga di lokasi pemakaman sekarang. Selama tinggal di lokasi tersebut, Sang Naualuh Damanik yang begitu dihomati masyarakat setempat, sempat menjadi guru mengaji sambil mengelola lahan pertanian di sekitar tempat tinggalnya.

Sementara, informasi dari berbagai pihak, kebiasaan orang dulu-dulu, kalau ada yang meninggal, dimakamkan di halaman rumahnya sendiri. Terakhir, rumah itu akhirnya ditinggalkan keluarga Sang Raja untuk kembali ke Kota Pematang Siantar.

Pada awalnya, di sekitar makam ditumbuhi semak belukar. Kemudian, direnovasi Pemkab Bengkalis sekira tahun 1998. Bahkan setelah empat kali direnovasi, akhirnya tampak seperti sekarang. Salah satu saksi bisu yang tetap ada, sumur di salah satu sudut tak jauh dari makam.

Wakil Bupati Bengkalis, H Bagus Santoso yang menerima muhibbah pengurus MUI Kota Siantar, sempat menuturkan sejarah Sang Naualuh Damanik selama di pengasingan Bengkalis. Sehingga, antar Kota Siantar dengan Bengkalis disebut memiliki hubungan sejarah yang cukup penting. Karenanya, menjadi suatu keharusan bagi Pemkab Bengkalis menjaga dan melestarikan makan Sang Naualuh Damanik sebagai peninggalan sejarah sekaligus sebagai wisata relegius.(In)

Pos terkait